Kau ada sejak satu November satu delapan tujuh-tujuh
Dari sebutan Gedung HBS hingga SMU
Di sinilah RM Sosrokartono hingga NH Dini menuntut ilmu
SMA Bodjong sebutanmu
Juga sebagai SMA Ganesha di lain waktu
Di Jalan Pemuda 149 Semarang letakmu
Dan beginilah cerita dariku…
Dari tahun delapan puluh hingga delapan puluh tiga
Di sana ku menyusun asa
Berbagi suka dan duka
Bersama sahabat dan teman-teman
Menyimak semua pelajaran
Yang sulit hingga yang agak gampang
Dan tak ada yang benar-benar bisa kami anggap gampang
Ibu Asminah Guru Kimia
Pak Mukhayat guru Olah Raga
Ibu Tatik Guru Bahasa Indonesia
Ibu Anjar guru Genetika
Bapak Soetiman kepala sekolahnya
Pak Jaffar penjaga pintu masuk
Kepadanyalah kami sedikit takut
Melihat sosoknya hati kami sudah ciut
Jangan harap datang lebih dari jam tujuh kurang seperempat
Pastilah terlambat
Pintu gerbang sudah ditutup
Tunggulah hingga pelajaran berikut
Dengan hati kecut
Menjadi tontonan teman dan guru
Benar-benar nggak keren dan malunya itu
Berangkat bersepeda ataupun naik biskota
Atau berjalan kaki menyusuri jalan Pemuda
’Tuk mencapai cita
Menjadi siapa dan apa saja
Asal berguna
Bagi Nusa dan Bangsa
Memang klise tetapi tak apa
Karena begitulah cita-cita
hampir semua anak SMA
Mei satu sembilan delapan tiga lulus
Terpencar ke segala penjuru
Semarang, Yogya, Surabaya, Jakarta, Bogor dan Bandung
Ataupun ke ujung dunia
Memperjuangkan kehidupan masing-masing
Keluarga, pekerjaan, skripsi, tesis, disertasi, ataupun yang lain
Hingga waktu tak terasa menggelinding
Seperempat abad kemudian
Tepatnya empat Oktober duaribu delapan
Bertemu muka dan bertatap
Semua tak mampu berucap
Karena hampir semua terlihat berbeda
Namun tak butuh waktu lama
Nuansa ja’im hilang dengan sendirinya
Si Ngocol tetap ngocol
Si Kutu loncat tidak berubah jadi konyol
Si hiperaktif, tak juga berkurang ”ke-hiperaktif-an”-nya
Si Anggun semakin anggun
Yang diam tetap berwibawa
Si Familiar oii.. tambah ramah
Si Jago Organisasi jadi Organizer lembaga kelas dunia
Sungguh pertemuan ini begitu berkesan
Seakan kembali masa silam
Sewaktu kami bersama terdiam
Melihat hasil ulangan kami mendapat nilai kurang dari enam
Atau bergembira saat menjadi pemenang dalam lomba bertaman
Siapa dia kini
Dan siapa kini saya
Sama sekali tak ada arti
Kami tak peduli
Seakan tetap menjadi pelajar SMA di duapuluh lima tahun silam
Alste Delapan Tiga
Walau jelas menua
(Semoga menjadi lebih dewasa)
Dam kami merasa sama
Sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Mahaesa
Untuk Guru-Guruku
Khususnya Bapak Ibu Guru SMA Negeri 3 Semarang
Kami berhutang budi padamu
Bontang, Manik Gatot, 4 Januari 2009.
http://www.sman3-smg.sch.id